header

Minggu, 02 Oktober 2011

Doa Katolik

Seseorang pernah berkata kepada saya bahwa dia pernah diajar jika kita memohon sesuatu kepada Tuhan maka kita harus mengimani kita telah menerima apa yang kita mohon, dan dia juga bercerita bahwa dia selalu berusaha untuk menanamkan dalam hati dan pikirannya bahwa ia telah meminta apa yang ia mohon kepada Tuhan. Saya pikir pemahaman dia tentang ayat ini dan tentang doa permohonan agak kurang tepat. Saya tahu bahwa kata-kata “kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya” berasal dari Alkitab, tetapi saya kira pemahamannya agak kurang tepat. Bunyi ayat yang dimaksud oleh teman saya itu persisnya adalah:
 “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepadaNya (1 Yohanes 5: 14-15).”      Jelas sekali bahwa kesalahpahaman muncul karena ayat 15 dipisahkan dari kalimat sebelumnya, sementara pembacaan yang lebih utuh menunjukkan bahwa Allah hanya mengabulkan doa yang sesuai dengan kehendak-Nya, seperti juga dikatakan oleh St. Yakobus ketika dia menegaskan bahwa ada orang-orang yang tidak menerima apa-apa sekali pun mereka telah berdoa karena mereka salah berdoa (Yak 4:3). Sekali pun kesimpulan ini benar, namun muncul pertanyaan baru; “Jika Allah hanya mengabulkan doa sesuai kehendak-Nya, kenapa kita harus memohon sesuatu kepada-Nya?”, lagipula “bukankah Allah Mahatahu dan Dia tahu apa yang saya butuhkan dan yang baik untuk saya, jadi untuk apa saya berdoa?” Jawaban atas pertanyaan ini berkaitan dengan pandangan Kristiani mengenai mengapa kita harus menyampaikan doa permohonan kepada Allah dan kita akan mencoba melihat beberapa hal soal itu.

     St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa kita berdoa bukan untuk memberi tahu Allah apa yang kita perlukan tapi untuk diri kita sendiri agar kita ingat bahwa kita membutuhkan bantuan Allah dalam hal-hal yang kita doakan tersebut, dan melalui doa manusia belajar menginginkan apa yang dalam keabadian Allah tentukan untuk diberikan kepada kita (cf. Summa Theologica, Part 2 of the Second Part, Treatise On The Cardinal Virtue [Interior Acts of Religion], Question 83: On Prayer, Article 2). Atau dalam kata-kata St. Agustinus “Allah menghendaki agar kehendak kita dilatih dalam doa, supaya kita dapat menerima apa yang Ia siapkan untuk diberikan kepada kita (KGK no. 2737; Ep. 130, 8, 17)”. Maka tujuan kita mengucapkan doa permohonan kepada Allah bukanlah untuk memberi Allah informasi tetapi untuk melatih kehendak kita agar selaras dengan kehendak-Nya, agar dalam persatuan dengan Putra Allah kita dapat benar-benar berkata dengan sepenuh hati kita, “Bapa kami, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu”.      Bagian Kitab Suci yang sering dikutip orang tentang doa permohonan adalah:“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat, ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Mat 7:7-11; Luk 11:9-13)”.      Cukup jelas bahwa Allah akan memberi yang baik kepada kita dan Dia tahu, bahkan lebih tahu daripada diri kita sendiri tentang apa yang baik untuk kita. Bagaimana pun, cukup menarik untuk diperhatikan bahwa Lukas menutup kisah ini dengan menegaskan bahwa Allah akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang memohon kepada-Nya (Luk 9:13).

     Untuk apa Roh Kudus? Dalam hal ini kita dapat menjawab dengan mengacu kepada St. Paulus yaitu karena kita tidak tahu bagaimana harus berdoa karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya baik untuk kita, atau apa yang harus kita minta dari Allah (Rom 8:26-27), hanya Allah yang tahu, dan Roh Kudus, adalah Dia yang menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah (1 Kor 2:10). Roh yang berasal dari Bapa dan Putra dan sehakekat dengan-Nya ini, mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya kita butuhkan dan Dia menyiapkan sesuatu yang baik untuk kita saat kita berdoa. Dan kita menyatakan keinginan kita kepada Allah agar Ia membentuk keinginan kita supaya sesuai dengan kehendak-Nya maka kita tidak dapat berdoa kecuali dibantu oleh Roh Kudus.

     Selanjutnya Katekismus Gereja Katolik menjelaskan bahwa doa permohonan merupakan gerakan kita berbalik kepada Allah (no. 2629). Cukup menarik bahwa kata berbalik memiliki arti yang sama dengan kata metanoia,  kata  dalam bahasa Yunani yang digunakan oleh Kitab Suci untuk menyebut pertobatan, dan Katekismus juga memperlihatkan hubungan antara doa permohonan dengan pertobatan ketika menyatakan bahwa gerakan pertama dalam doa permohonan adalah permohonan ampun atas dosa yang telah kita buat (no. 2631).

     Kemudian Katekismus juga menyebut permohonan seorang Kristen berpusat pada kerinduan dan pencarian akan Kerajaan yang akan datang (no. 2632).  Di sini kita menemukan dasar yang utama dari spiritualitas doa permohonan Kristen yang berbeda dari agama-agama lain, yaitu kita memandang doa permohonan sebagai sarana untuk menyelaraskan keinginan kita dengan keinginan Allah, sebagai sarana untuk mencapai persatuan dengan Allah yang adalah sumber kehidupan kita, dan bukan menjadikan Allah sebagai alat untuk memenuhi keinginan-keinginan kita. Dengan kesadaran inilah, saya kira, kita dapat dengan yakin menyampaikan semua permohonan kita kepada Allah, bukan karena dia akan mengabulkannya menurut keinginan kita, tetapi karena kita menyerahkan seluruh keinginan kita untuk dibentuk oleh-Nya.

     Beberapa tahun lalu saya mendapat kiriman edisi bahasa Inggris dari majalah Italia, 30Giorni: nella chiesa e nell mondo (30Days: In the Church and in the World), dan mendapat bonus  berupa sebuah buku doa berjudul Who Prays Is Saved. Buku kecil ini berisi doa-doa dasar agama Kristen dan panduan untuk menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni. Yang paling menarik dari buku kecil ini adalah kata pengantarnya yang ditulis oleh Kardinal Joseph Ratzinger sebelum terpilih menjadi Uskup Roma. Ratzinger menulis:

     “Kita tidak tahu apa yang paling baik untuk kita minta dalam doa, kata St. Paulus (Rom 8:26). Karena itu, seperti para murid, kita harus selalu berkata kepada Tuhan: “Tuhan, ajarilah kami berdoa (Luk 11:1). Tuhan mengajar Doa Bapa kami sebagai model doa yang asli, dan telah memberi kita seorang ibu, yaitu Gereja, yang membantu kita untuk berdoa. Gereja telah menerima harta karun doa yang melimpah dari Kitab Suci. Dan selama berabad-abad sejumlah besar doa telah muncul dari hati para beriman, yang dengan doa-doa itu mereka memperbarui hubungan mereka dengan Allah. Dalam berdoa dengan Bunda Gereja kita sendiri belajar untuk berdoa.”

     Setelah membaca tulisan ini mungkin Anda bertanya jadi bagaimanakah sebenarnya saya harus berdoa? Saya harus mengakui saya tidak mampu mengajar Anda. Tetapi, setidaknya saya bisa sedikit menunjukkan dimana Anda dapat belajar bagaimana harus berdoa. Ratzinger menunjuk Kitab Suci, dan terutama adalah kitab Mazmur sebagai sebuah buku doa yang istimewa yang dapat mengajar kita bukan mengenai menyusun kata-kata doa tetapi lebih dalam lagi kepada semangat doa yang alkitabiah, doa-doa tradisional Gereja juga merupakan bantuan yang sangat berarti. Saya sama sekali tidak mengabaikan doa spontan, tetapi adalah mutlak perlu untuk menjadikan doa spontan kita dijiwai oleh Roh yang telah menginspirasi pemazmur dan menghasilkan doa-doa tradisional dalam Gereja. Dan di atas semuanya mutlak perlu untuk dengan tulus mengucapkan kata-kata para murid kepada Kristus, “Tuhan ajarilah kami berdoa.” Kumpulan Doa-doa Katolik klik di sini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar